Premana Premadi, Astronom ITB dan Mantan Kepala Bosscha yang Namanya Diabadikan sebagai Asteroid
“Semesta ini terlalu besar, terlalu indah, terlalu megah untuk dinikmati sendiri. Ada dorongan bagi kami para astronom untuk berbagi,” ujar Premana.
Meskipun selama ini nama Premana tidak banyak disebut di media, ia telah banyak memberikan kontribusi di dunia akademik. Premana banyak menghasilkan jurnal tentang astronomi.
Astronomi adalah pengetahuan tentang galaksi, bintang, atau benda luar angkasa. Bagi Premana, Astronomi bukan ilmu yang eksklusif dan hanya bisa dipahami oleh akademisi. Ilmu ini, menurutnya, justru harus bisa didekatkan ke masyarakat umum. Oleh karena itu, ia merasa sains tidak seharusnya dinikmati sendiri oleh segelintir orang.
Prinsip berbagi pengetahuan itulah yang ia pegang sejak awal kariernya, Apalagi, bidang yang ia tekuni adalah astrofisika, cabang astronomi yang menerapkan hukum-hukum fisika dan kimia untuk memahami sifat, perilaku, dan evolusi benda-benda langit.
Pada akhir 1980-an, astrofisika masih merupakan bidang yang jarang dipilih di Indonesia, terutama oleh perempuan. Akan tetapi, Premana menjadi salah satu perempuan yang bergelut di bidang itu. Kini, ia ingin berbagi tentang ilmu yang telah ia kuasai, khususnya kepada anak-anak.
Pada 2017, International Astronomical Union (IAU) mengabadikan namanya sebagai asteroid (12937) Premadi, yang sebelumnya dikenal sebagai 3024 P-L. Penamaan asteroid ini menjadi pengakuan resmi dunia astronomi internasional atas kontribusinya.
Pada 2023, Premana juga dianugerahi gelar Honorary Fellow of the Royal Astronomical Society dari Kerajaan Inggris, sebuah penghargaan prestisius bagi ilmuwan dengan dampak global.
Bagi dunia astronomi, Premana adalah nama yang diabadikan sebagai asteroid dan penerima penghargaan bergengsi. Namun, bagi Premana sendiri, sains tetap soal berbagi. Tentang bagaimana pengetahuan langit bisa menyentuh kehidupan manusia, terutama mereka yang selama ini jauh dari akses ilmu pengetahuan.
Siapa Premana Premadi?
Namanya Premana Wardayanti Premadi. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Alam ITB ini lahir di Surabaya, 13 Juli 1964.
Sebelum mengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB), Premana pernah menempuh pendidikan Sarjana Sains Astronomi di kampus tersebut. Ia lulus dari kampus Ganesha pada 1988.
Usai dari ITB, Premana terbang ke Amerika Serikat. Ia melanjutkan studi ke University of Texas at Austin. Di kampus ini, ia mendalami evolusi struktur skala besar alam semesta melalui teknik lensa gravitasi.
Lensa gravitasi adalah metode yang memanfaatkan teori relativitas umum Albert Einstein. Cahaya dari objek jauh di alam semesta akan dibelokkan oleh massa besar, seperti galaksi atau gugus galaksi, sehingga dapat digunakan untuk mempelajari struktur kosmos yang tak terlihat langsung, termasuk materi gelap.
Sederhananya, lensa gravitasi terjadi ketika galaksi yang sangat besar bertindak seperti kaca pembesar alami. Cahaya dari objek jauh dibelokkan oleh gravitasinya, sehingga para astronom bisa melihat struktur alam semesta.
Riset Premana pada 1990-an dikenal sebagai salah satu pionir dalam pengujian model kosmologi teoritis berbasis simulasi komputasional. Ketika meraih gelar doktor pada 1996, ia tercatat sebagai perempuan Indonesia pertama yang menyandang gelar PhD di bidang astrofisika dari universitas tersebut.
“Galaksi itu seperti manusia. Tidak ada dua galaksi yang sama. Lingkungannya berbeda, evolusinya berbeda, tetapi mereka mengikuti hukum alam yang sama. Dan itulah keindahannya,” kata Premana.
Observatorium Bosscha dan Kepemimpinan Perempuan
Pada periode 2018–2023, Premana dipercaya menjadi Kepala Observatorium Bosscha. Ia menjadi perempuan pertama yang memimpin lembaga riset astronomi tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1923.
Di bawah kepemimpinannya, Bosscha ditegaskan kembali sebagai pusat pengetahuan tentang alam semesta dengan teknologi terbaik.
“Kita ingin menjaga reputasi sebagai negara yang berada di garis depan. Potensinya luar biasa besar,” ujar Premana.
Sejak awal berdiri, Observatorium Bosscha memang tidak dibangun sekadar sebagai bangunan pengamatan bintang. Pendirian Bosscha yang digagas oleh Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) dengan tujuan yang sangat jelas, yakni membangun dan merawat sebuah observatorium astronomi di Hindia Belanda, sekaligus memajukan ilmu astronomi.
Tujuan ini menegaskan bahwa Bosscha sejak awal dirancang sebagai pusat ilmu pengetahuan. Ia menjadi tempat riset, pengamatan, dan pengembangan astronomi, bukan hanya untuk kepentingan ilmuwan pada masanya, tetapi juga sebagai warisan keilmuan jangka panjang.
Peran kepemimpinannya tak berhenti di Bandung. Bersama BRIN, ITB, dan pemerintah daerah, ia merancang program pemberdayaan pendidikan sains di sekitar Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur. Program ini mencakup penyediaan listrik energi berkelanjutan, akses air bersih, hingga pendirian Science Center untuk pendidikan STEM.
Sains yang Tak Elitis
Alih-alih hanya berkutat pada riset, Premana justru melihat gap antara kemajuan sains dan akses masyarakat terhadap pengetahuan. Ia menilai pengetahuan semakin berkembang pesat tetapi kesadaran dan akses masyarakat terhadap ilmu masih terbatas, utamanya pada anak-anak. Dari sinilah perhatiannya pada pendidikan anak-anak tumbuh.
Apalagi, menurutnya anak-anak adalah golongan yang sangat tertarik dengan benda-benda unik di luar angkasa. Makanya, sifat ini dinilai menjadi peluang bagi Premana untuk mengenalkan astronomi.
“Astronomi itu sains yang mudah mendapat engage dibanding ilmu sains lain. Dan itu membuat anak-anak mudah terpikat,” ujarnya.
Dorongan itu melahirkan Universe Awareness for Children (UNAWE), sebuah gerakan global yang memperkenalkan astronomi kepada anak-anak, terutama di wilayah tertinggal. Melalui astronomi, anak-anak diajak memahami sains dengan cara yang dekat dan membumi, tanpa harus memiliki latar belakang akademik.
Menurut Premana, kesenjangan pendidikan sains bukan persoalan masa depan, tetapi persoalan hari ini.
“Semakin besar kesenjangan antara kemajuan sains dan pendidikan, semakin genting situasinya. Kita perlu jembatan yang kokoh agar masyarakat bisa mengikuti perkembangan sains secara timely,” katanya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.